0813 - 9854 - 3100 masjidpedesaan@gmail.com

Keutamaan Puasa Dzulhijjah dan Manfaatnya

  • Home / Blog / Keutamaan Puasa Dzulhijjah…
Keutamaan Puasa Dzulhijjah dan Manfaatnya

Keutamaan Puasa Dzulhijjah dan Manfaatnya

Oleh: Maulianda, Lc

Pengertian Puasa

Puasa secara bahasa artinya menahan dari sesuatu atau meninggalkannya, dan dikatakan bagi yang berpuasa adalah orang yang berpuasa karena menahan diri daripada makan, minum, dan berhubungan(suami-istri). Dan disebut sebagai orang yang diam adalah orang yang berpuasa karena menahan diri dari berbicara.

Artinya: Abu ubaidah berkata: “Setiap orang yang menahan dirinya untuk tidak makan atau bebrbicara atau berpergiana maka dia disebut Shaim(orang yang berpuasa)”. (Lisanul ‘arab Libni Manzhur, materi: Puasa, Jil.12, Hal.350).

Artinya: Allah Swt Berfirman: “Sesungguhnya aku telah bernadzar kepada Rahman (Allah Swt) untuk berpuasa (tidak bicara).

Adapun puasa menurut istilah adalah: seorang muslim menahan diri dari segala sesuatu yang telah dikuhususkan (sesuai ketentuan syariat) dari mulai terbitnya fajar samapi tenggelamnya matahari dengan niat beribadah kepada Allah Swt. (Hasyiah Ibnu ‘Abidin …

Artinya: Abu Umar bin Abdil Bar berkata: “Adapun arti puasa dalam ma’na syariat adalah menahan diri dari makan minum, berhubungan suami istri pada siang hari dengan syarat apabila dia tinggalkan itu semua karena mengharapkan Ridha Allah Swt dan dia meniatkannya dalam hati, inilah arti puasa menurut Syari’at disisi seluruh Ulama”. (Al Ijma’ Libni ‘Abdil Bar).

Hikmah Pensyariatan Puasa

Dalam setiap amal ibadah yang Allah bebankan kepada setiap muslim tentu banyak hikmah yang terkandung didalamnya; karena Allah lebih tahu daripada diri kita sendiri walaupun kita sebagai muslim yang beriman dan taa’t kepada Allah Swt tidak punya hak mempertanyakan nya.

diantara hikmah disyariakatnya puasa adalah sebagai berikut:

  • Puasa adalah amalan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya yang didalamnya terkandung unsur kejujuran dalam pengawasan, maka di saat itu pula seorang hamba akan didik tentang selalu berada pengawasan Allah SWT dan ketakutan terhadap-Nya, maka akan terlepas dari seorang hamba sifat Riya’. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Sebuah Hadist Qudsi, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

  • Puasa dapat membiasakan ummat islam untuk teratur, Bersatu, cinta terhadap keadilan dan persamaan tanpa adanya kasta anatara kaya dan miskin, juga dapat membuat mukmin untuk makin peka terhadap lingkungannya serta timbul rasa kemanusian terhadap lainnya, serta dapat melindung masyarakat dari segala sifat merusak. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Saw:

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْإِنِّي امْرُؤٌ صَائِم


Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Perisai (جُنَّة) adalah yang melindungi seorang hamba, sebagaimana perisai yang digunakan untuk melindungi dari pukulan ketika perang. Maka demikian pula puasa akan menjaga pelakunya dari berbagai kemaksiatan di dunia.

  • Bahwa puasa dapat menjadikan seorang muslim untuk dapat merasakan rasa sakit yang dialami oleh saudaranya maka akan membuat seseorang terdorong jiwanya untuk berusaha membantu dan berbuat baik terhadap saudaranya yang fakir dan miskin.

Rukun Puasa

Seluruh ulama sepakat bahwa menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari adalah rukun puasa. Dalilnya adalah Firman Allah SWT:

Sebagian ulama maliki berpendapat bahwa rukun puasa dua, yaitu:

  1. Menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa
  2. Niat

Sebagian ulama syafi’i berpendapat bahwa rukun puasa ada 3, yaitu:

  1. Menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa
  2. Niat
  3. Waktu; yaitu antara fajar Shadiq dan terbenamnya matahari

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa niat dan waktu adalah syarat sah puasa bukan rukun. (Bidayatul Mujtahid, Libni Rusyd, Jil:1, Hal:283), (Raudhatut Thalibin, Lin Nawawi, Hal:129).

Macam-macam Puasa

Puasa dibagi 2 macam :

  • Puasa Fardhu


yaitu puasa bulan Ramadhan baik itu ada’ (ditunaikan pada saat itu) ataupun qadha’, puasa kaffarat, dan puasa nadzar.

  • Puasa Sunnat

Yaitu puasa-puasa yang dianjurkan oleh syariat diantaranya adalah puasa bulan Dzulhijjah, puasa hari Asyura, puasa 6 hari bulan syawwal, puasa senin-kamis dan puasa sunnat lainnya. Pada tulisan kali ini insya Allah kita akan bahas tentang keutamaan puasa bulan Dzulhijjah.

Keutamaan Puasa Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam islam bahkan bulan ini termasuk salah satu dari bulan-bulan haram, sebagaimana Firman Allah SWT :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“ Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. At Taubah: 36)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان

“Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya – pen). 3 bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah,  Al Muharram, (dan yang terakhir –pen) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari)

Pada surat Al Fajr ayat ke 2 juga menunjukkan bahwa Allah Swt menyediakan hari-hari terbaik pada bulan dzulhijjah, Firman Allah Swt:

وليال عشر

“Dan malam yang sepuluh” (Qs. Al Fajr: 2)

Didalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa yang dimaksudkan adalah dengan malam yang sepuluh adalah 10 hari pertama bulan dzulhijjah, yang mana ini diukuatkan oleh hadist nabi SAW:

عن ابن عباس مرفوعا ” ما من أيام العمل الصالح أحب إلى الله فيهن من هذه الأيام ” – يعني عشر ذي الحجة – قالوا : ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال : ” ولا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجلا خرج بنفسه وماله ، ثم لم يرجع من ذلك بشيء ” .

Dari Ibnu Abbas Marfu’an (sampai kepada nabi SAW) “Tidak ada hari dimana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh)”.(HR.Bukhari)

عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : ” إن العشر عشر الأضحى ، والوتر يوم عرفة ، والشفع يوم النحر “

Dari Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya yang dimaksud dengan 10 itu adalah 10 bulan Al Adh-ha (bulan Dzulhijjah), dan yang dimaksud dengan “ganjil” adalah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan “genap” adalah hari raya Idul Adh-ha. (HR. Ahmad, An-Nasaa’i, hadits ini dinilai shahih oleh Al-Haakim dan penilaiannya disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Dari pembahasan diatas maka bagi seorang muslim yang ingin berpuasa pada bulan dzulhijjah boleh dengan 2 pilihan :

Puasa hari arafah

Yaitu berpuasa pada ke-9 bulan dzulhijjah sebagaimana Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang puasa hari arafah :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَه

“…puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim)

Bagaimana dengan mereka yang sedang melaksanakan wukuf di arafah? maka para ulama dalam hal ini ada 2 pendapat :

  1. Pendapat jumhur (maliki,hambali,syafi’i) tidak disunnahkan bagi yang berwukuf di arafah supaya kuat untuk memperbanyak doa’, karena nabi pun tidak berpuasa, begitu pula Abu bakar, umar dan Ustman kecuali bagi mereka yang wukuf di arafah pada malam hari maka disunnahkan untuk berpuasa.
  2. Madzhad Hanafi berpendapat: dimakruhkan berpuasa pada hari arafah bagi yang berhaji apabila dengan puasa tersebut membuatnya lemah Ketika wukuf maupun berdoa’. Tapi jika tidak maka disunnahkan untuk berpuasa. ( Badaiu Shanaa’I, Lil kasaani, Jil:2, Hal: 982).
  3. Puasa 9 Hari Bulan Dzulhijjah

Yaitu dimulai dari awal dzulhijjah sampai hari arafah. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

عن ابن عباس مرفوعا ” ما من أيام العمل الصالح أحب إلى الله فيهن من هذه الأيام ” – يعني عشر ذي الحجة – قالوا : ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال : ” ولا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجلا خرج بنفسه وماله ، ثم لم يرجع من ذلك بشيء ” .

Dari Ibnu Abbas Marfu’an (sampai kepada nabi SAW) “Tidak ada hari dimana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh)”.(HR.Bukhari)

Juga hadist dari Hafshah R.A :

وعن حفصة رضي الله عنها قالت: أربع لم يكن يدعهن رسول الله صلى الله عليه وسلم صيام يوم عاشوراء والعشر وثلاثة أيام من كل شهر والركعتين قبل الغداة.

Dari Hafshah RA, berkata: “Ada 4 hal yang Nabi SAW tidak pernah meninggalkannya: puasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura’), puasa pada 10 awal bulan Dzul Hijjah, puasa selama tiga hari setiap bulannya (Ayyamul Biidh) dan 2 Rakaat sebelum subuh”. (HR. Ahmad dan Nasai).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *