0813 - 9854 - 3100 masjidpedesaan@gmail.com

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

  • Home / Blog / Keutamaan Puasa Ayyamul…
Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Oleh: Muhammad Iqbal

Pengertian Puasa Ayyamul Bidh

Dalam bahasa Arab kata ayyamul bidh terdiri dari kata Ayyam yang berarti hari- hari dan Bidh yang berarti putih, berarti harinya lebih dari satu hari, karena ayyam merupakan bentuk jama’ dari yaum, yaitu pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan terang benderang yang indah dan tampak berwarna putih bercahaya.

Ada pula pendapat lain menyebutkan, tertulis dalam kitab “Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari” yang menjelaskan Ayyamul Bidh berasal dari kisah Nabi Adam A.S. Saat Adam turun ke bumi, tubuhnya dalam keadaan hitam. Ketika melakukan puasa selama tiga hari ini, tubuhnya memutih.

Berangkat dari pengertian tadi, Rasulullah SAW memerintahkan kita selaku umatnya untuk berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali. Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada Ayyamul Bidh, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 di setiap bulan Hijriyah. Waktu penetapan puasa Ayyamul Bidh ini berdasarkan pada kalender Qomariyah atau Hijriyah.

Meskipun di negara kita tidak  menggunakan kalender Qomariyah, sehingga menjadi penghambat kita untuk melaksanakannya, dan akhirnya kita lupa bahwasanya pertengahan bulan Qomariyah sudah terlewat. Tetapi dengan keadaan sekarang, untuk melakukan puasa Ayyamul Bidh tentulah mudah, cetakan kalender Masehi juga biasa nya disertai dengan tanggal hijriyah dan diberi tanda warna bahwa hari-hari itu merupakan hari pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh, kemudian biasa juga berupa pengingat broadcast di grup Whatsapp atau sosial media lainnya yang saling mengingatkan satu dan yang lainnya untuk berpuasa  sehingga memudahkan kita untuk melaksanakannya di tanggal pertengahan setiap bulan, kecuali ditanggal 13 bulan Dzulhijjah karena itu hari tasyriq yang apabila kita berpuasa pada hari itu, maka haram hukumnya.

Seperti kita ketahui bahwasannya puasa itu dibagi dua macam, pertama puasa wajib, yaitu hanya satu waktu pada bulan Ramadhan saja selama 30 atau 29 hari. Dan ada juga puasa sunnah yang mungkin sudah banyak orang mengetahui akan puasa ini. Puasa sunnah cenderung variatif dan banyak, sehingga kita bisa memilih salah satu dari puasa sunnah tersebut sesuai dengan kemampuan fisik kita untuk menjalaninya, akan tetapi lebih utamanya kita bisa melaksanakannya tanpa memilih ibadah satu dengan yang lainnya, supaya menjadi pribadi yang beruntung karena akan keutamaannya.

Seperti puasa Daud, yaitu puasa yang dilaksanakan sehari puasa dan sehari tidak, dilakukan secara terus menerus. Dan ini akan terasa sangat berat untuk kita jalani bagi kita yang jarang melakukan puasa sunnah kecuali puasa wajib saja. Terlebih dengan kondisi pandemi seperti ini, harus selalu menjaga kesehatan tubuh kita, meskipun tidak dapat dipungkiri juga manfaat dari puasa itu untuk kesehatan tubuh kita.

Kemudian ada puasa Syawal, yaitu puasa yang dilakukan selama enam hari lamanya dilakukan di bulan Syawal tentunya. Kemudian puasa setiap tanggal 9 dan 10 di bulan Muharam yang biasa disebut puasa Tasu’a dan Asyura, puasa setiap tanggal 9 Dzulhijjah atau disebut puasa Arafah, puasa Ayyamul bidh setiap tanggal 13, 14, 15, setiap bulan pada bulan Hijriyah, puasa Senin dan Kamis, dan puasa- puasa sunnah yang lainnya yang tentu saja banyak sekali keutamaannya bagi yang selalu melaksanakannya.

Setalah tadi disebutkan macam- macam puasa sunnah, kita akan membahas salah satu dari yang tadi disebutkan yaitu puasa Ayyamul Bidh, ibadah puasa yang dilakukan setiap tanggal 13, 14, dan 15 di setiap bulan Hijriyah.

Puasa Ayyamul Bidh dapat dijalankan oleh setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Pada perempuan, ada ketentuan khusus yang harus dipenuhi. Misalnya, perempuan harus berada dalam keadaan suci dan mendapatkan izin dari suami untuk berpuasa sunnah.

Ketentuan menjalankan puasa Ayyamul Bidh sama dengan puasa lainnya, seperti niat dan menahan diri dari lapar dan haus serta hawa nafsu. Dimulai dari terbitnya fajar ketika adzan Subuh sampai terbenamnya matahari ketika adzan Magrib. Niat puasa Ayyamul bidh juga boleh dilakukan saat pagi atau siang hari ketika sudah melewati waktu subuh.

Dalil yang Menjadi Rujukan Disyariatkannya Puasa Ayyamul Bidh.

  • Dalil pertama : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

 “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari. No: 1178).

  • Dalil kedua: Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah,

“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”(HR. Tirmidzi. No: 763 dan Ibnu Majah. No: 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

  • Dalil ketiga: Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

 “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi. No: 761 dan An Nasai. No: Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan.

Keutamaan Puasa Sunnah Ayyamul Bidh

Fadhillah ataupun keutamaan tentang puasa sunnah ayyamul bidh ini sungguh luar biasa besarnya, diantaranya :

  • Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“. (HR. Ibnu Majah. No. 209).

Hadits ini menceritakan betapa besar dan agungnya orang yang selalu menghidupkan sunnah Nabi, terlebih lagi sunnah yang ditinggalkan oleh banyak umat manusia. Kita diwajibkan untuk mempelajari dan memahami sunnahnya, mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari kita dan mengajak serta untuk menyebarkan antara manusia yang lainnya, menganjurkan yang lainnya untuk mengikutinya dan melarang untuk menyelisihinya. Mudah- mudahan kita termasuk umatnya yang insyaallah berusaha istiqamah setia berpegang teguh menjalankan sunnah sunnahnNya.

  • Berpuasa tiga hari setiap bulannya, kecuali puasa ditanggal 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik) pahalanya sama dengan puasa setahun penuh insyaallah.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari no. 1979)

Melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun. Mengapa? Karena setiap pahala puasa itu, satu kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan. Ketika kita berpuasa tiga hari setiap bulannya sama dengan puasa sebanyak tiga puluh hari setiap bulan. Jadi seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun. Meskipun terkait pahala hanya Allah SWT lah yang mengetahui, ini hanya sekedar hitungan manusia supaya termotivasi untuk berpuasa sunnah.

  • Amalan Puasa Khusus untuk Allah

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”. Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.

Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?

Pertama, karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabbnya yang tidak nampak di hadapannya”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini, dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.

Kedua, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan yang lainnya mengatakan, “Dalam puasa itu sulit sekali terdapat riya’ atau ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain”. Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.

  • Bertambahnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Alasan mengapa melaksanakan puasa bisa menjadikan seorang pribadi yang kualitas keimanannya meningkat dan menjadi seseorang yang lebih bertakwa. Karena pada dasarnya ibadah puasa itu merupakan upaya untuk mengontrol diri dari semua yang membatalkan puasa, bukan hanya makan dan minum saja, tetapi juga dari segala bentuk fikiran, perkataan dan perbuatan hambanya yang tercela. Sementara takwa itu sendiri merupakan kondisi di mana seorang hamba berusaha  senantiasa melaksanakan apa- apa yang Allah SWT perintahkan dan menjauhi apa- apa yang di larangNya, karena semata- mata hanya mengharapkan ridhaNya.

  • Perintah langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dikisahkan dalam sebuah riwayat hadits, bahwa dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan secara langsung perihal ibadah puasa ayyamul bidh. Hal inilah  yang menjadi salah satu keutamaan dari puasa ayyamul bidh.

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat untuk seluruh umatnya tentang tiga hal. Dimana tiga hal ini adalah ibadah yang hukumnya sunah akan tetapi pahalanya luar biasa besarnya, dan juga memiliki manfaat luar biasa untuk ketenangan hati dan ketentraman jiwa manusia. Yaitu berpuasa selama tiga hari setiap bulan, membiasakan untuk melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua rakaat minimal paling sedikit, dan melaksanakan shalat witir sebelum tidur, khawatir tertinggal dengan datangnya waktu shubuh.

Seperti yang kita ketahui bersama, telah dijelaskan bahwa puasa tiga hari setiap bulan atau ayyamul bidh ini dapat membantu mengurangi perbuatan maksiat, dapat menjadi perisai, menundukkan hawa nafsu manusia, amarah, dan perbuatan- perbuatan tercela yang lainnya yang membuat kondisi bathin kita kacau disebabkan perbuatan- perbuatan yang Allah SWT larang. Oleh karena itu Nabi menganjurkan puasa ayyamul bidh ini salah satunya adalah sebagai sarana diri untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat, meredakan emosi yang kita rasakan sehingga tetap terkontrol dan berjalan dengan wajar.

Kemudian pada perintah berikutnya, yaitu sholat dhuha dan witir selain dapat menenangkan jiwa juga dapat mempermudah segala urusan kita di dunia dan menjadi bekal kita untuk di akhirat nanti.

  • Tauladan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Diterangkan dalam sebuah hadis bahwa puasa ayyamul bidh adalah tauladan dari ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini diketahui dari sebuah percakapan antara Mu’adzah yang bertanya kepada Aisyah tentang ibadah puasa selama tiga hari berturut-turut di setiap bulannya yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kapan saja waktu untuk melaksanakannya yang kemudian dibenarkan dan dijelaskan oleh Aisyah bahwa puasa tersebut dilakukan dihari apa saja.

  • Anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta pengkhususan waktunya.

Selain memerintahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikisahkan pernah mengajurkan puasa ayyamul bidh serta waktu pelaksanaannya.

Kisah ini diriwayatkan dalam hadis At-Tirmidzi,  dari Abu Dzar radhiyallâhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitahunya padanya bahwa:

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

Dalam hadis ini disebutkan tentang waktu-waktu untuk melakukan puasa ayyamul bidh. Yakni pada tanggal 13, 14 dan 15 tiga belas dari bulan hijriyah. Penentuan waktu dari puasa ayyamul bidh ini dikarenakan pada tanggal tersebut kondisi bulan sedang dalam keadaan purnama dan tengah bersinar dengan terangnya. Pada tanggal tersebut juga terjadi fenomena alam dimana posisi bulan sangat dekat dengan bumi sehingga gaya gravitasi dalam bulan tersebut membuat ketinggian air laut menjadi pasang serta mempengaruhi kondisi psikis dari makhluk hidup yang ada di bumi menjadi lebih sensitive dan emosional. Sehingga dengan melakukan puasa ayyamul bidh diharapkan agar kondisi kejiwaan lebih tenang, sabar, dan melatih emosi dalam diri kita supaya lebih terarah dan terkontrol.

  • Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya, sehingga menjadikan tubuh kita sehat dan tidak mudah sakit.

Tidak bisa kita pungkiri bahwasanya dengan kita merutinkan puasa setiap bulannya akan terasa manfaatnya oleh tubuh kita. Banyak sekali manfaat puasa untuk kesehatan tubuh kita, diantaranya dapat menanggulangi stress dan depresi, karena dengan puasa kita dilatih untuk selalu mengontrol diri kita, menjaga berat badan supaya tetap ideal, mengurangi resiko jantung dan kanker, dan masih banyak lagi manfaat-manfaat yang lainnya. Oleh sebab itu, kita melakukan puasa ini semata- mata hanya mengharap ridho Allah supaya badan kita tetap dalam keadaan sehat walafiat senantiasa selalu siap beribadah tunduk kepadaNya yang telah membuat tubuh kita selalu sehat serta dapat mencari rizki yang halalan thayyiban.

Itulah sedikit pengetahuan tentang apa itu puasa Ayyamul bidh, kapan dan bagaimana tata cara pelaksanaannya, macam- macam puasa sunnah selain puasa Ayyamul bidh, dalil- dalil tentang penganjuran puasa Ayyamul Bidh, beserta  keutamaan–puasa Ayyamul Bidh yang besar bagi hambanya yang terbiasa untuk melakukannya, sehingga ibadah spesial ini jangan sampai kita lewatkan begitu saja jika kita tidak mau termasuk orang yang merugi. Mudah mudahan kita menjadi hamba yang bisa istiqamah untuk membiasakan puasa Ayyamul Bidh ini, sebuah ladang pahala yang teramat besar apabila kita mau dengan ikhlas menjalankannya. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *