fbpx

Doa Sujud Syukur Sebagai Bentuk Ungkapan Rasa Syukur

doa sujud syukur

Begitu banyak nikmat yang telah kita dapat di kehidupan kita ini. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk bersyukur kepada Allah SWT. Salah satu cara untuk menunjukkan rasa syukur kita adalah dengan melakukan sujud syukur. Apa itu sujud syukur? dan bagaimana tata cara serta doa sujud syukur itu sendiri? 

doa sujud syukur yang benar

Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman : 

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [Al-Baqarah/2:152] 

Dan dalam firman-Nya yang lain :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” [Ibrâhîm/14:7]

Maka sudah seharusnya bagi kita untuk mengungkapkan rasa syukur tersebut baik dengan hati, lisan, maupun tubuh kita. Mengungkapkan rasa syukur dengan hati adalah dengan meyakini bahwa segala hal yang ada pada kita adalah nikmat yang Alloh ta’ala karuniakan kepada kita, dan tidak ada siapapun yang dapat menandingi kemurahan-Nya. Adapun bersyukur dengan lisan, senantiasa mengucapkan kalimat thayyibbah sebagai bentuk pujian terhadap Allah Ta’ala. Allah sangat senang apabila dipuji oleh hamba-Nya. Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji Allah ta’ala.

Alloh berfirman : 

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS. Adh Dhuha: 11)

Dan bersyukur dengan seluruh anggota tubuh dengan beribadah kepada Alloh dan menjauhi larangan-Nya. Segala macam ibadah yang kita tujukan kepada Alloh merupakan ungkapan syukur kita kepada-nya, baik amalan sunnah maupun wajib. Diantara salah satu amalan tersebut ada satu amalan khusus yang dikerjakan untuk mengungkapkan rasa syukur, yaitu sujud syukur. 

Pengertian Sujud Syukur 

doa sujud syukur lengkap

Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan oleh seseorang ketika mendapatkan atau mendengar berita gembira berupa nikmat atau ketika selamat dari bencana. Dalil disyari’atkannya sujud syukur adalah,, 

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ

Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu ketika beliau mendapati hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah ta’ala. (HR. Abu Daud no. 2774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Juga dari hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di mana ketika diberitahu bahwa taubat Ka’ab diterima, beliau pun tersungkur untuk bersujud (yaitu sujud syukur).

Sujud syukur hukumnya adalah sunnah ketika ada sebabnya. Inilah pendapat ulama Syafi’iyah dan Hanbali.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya “Manhajus Salikin” :

وَكَذَلِكَ إِذَا تَجَدَّدَتْ لَهُ نِعْمَةٌ ، أَوْ اِنْدَفَعَتْ عَنْهُ نِقْمَةٌ : سَجَدَ ِللهِ شُكْرًا . وَحُكْمُ سُجُوْدُ الشُّكْرِ كَسُجُوْدِ التِّلاَوَةَ 

“Begitu pula ketika seseorang mendapatkan nikmat baru atau terselematkan dari suatu musibah, ia bersujud kepada Allah dalam rangka syukur. Hukum sujud syukur sama dengan hukum sujud tilawah.”

Nikmat yang dimaksud adalah nikmat besar yang tidak didapati setiap waktu. Contohnya adalah ketika seseorang baru dikarunia anak oleh Allah setelah dalam waktu yang lama menanti atau ketika sembuh dari sakit berat, dsb. Atau boleh jadi pula sujud syukur dilakukan ketika melihat orang yang tertimpa musibah atau melihat ahli maksiat, ia bersyukur karena selamat dari hal-hal tersebut.

Ulama Syafi’iyah dan ulama Hanbali berpendapat : “Tidak disyari’atkan (disunnahkan) untuk sujud syukur karena mendapatkan nikmat yang sifatnya terus menerus yang tidak pernah terputus.”

Mereka juga menegaskan bahwa sujud syukur disunnahkan ketika mendapatkan nikmat dan selamat dari musibah yang sifatnya khusus pada individu atau dialami oleh kebanyakan kaum muslimin seperti selamat dari musuh atau selamat dari wabah. 

Dari Al-Bara’ bin ‘Aazib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Ali ke Yaman–lalu disebutkan kelengkapan haditsnya–, lalu Al-Bara’ mengatakan :

فَكَتَبَ عَلِىٌّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِإِسْلاَمِهِمْ ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِدًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ

“Ali menuliskan surat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi keislaman mereka (penduduk Yaman). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat tersebut, beliau tersungkur sujud.” (HR. Al-Baihaqi 2:404)

Syarat Sujud Syukur

doa sujud syukur lengkap beserta artinya

Sujud syukur tidak disyaratkan untuk bersuci. Inilah pendapat ulama Malikiyyah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syaukani, Ash-Shan’ani, Ibnu Baz, dan Ibnu ‘Utsaimin. [Mulakhkhash fii Fiqh Al-‘Ibaadaat, hlm. 257]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyelisihi pendapat ulama madzhab. Beliau berpendapat bahwa sujud syukur tidak disyaratkan menghadap kiblat, juga tidak disyaratkan bersuci karena sujud syukur bukanlah shalat. Hal-hal tersebut hanyalah disunnahkan saja dan bukan syarat.

Tata Cara Sujud Syukur

doa sujud syukur yang lengkap

Tata caranya adalah seperti sujud tilawah. Yaitu dengan sekali sujud. Ketika akan sujud hendaklah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, lalu bertakbir, kemudian melakukan sekali sujud. Saat sujud, bacaan yang dibaca adalah seperti bacaan ketika sujud dalam shalat. Kemudian setelah itu bertakbir kembali dan mengangkat kepala. Setelah sujud tidak ada salam dan tidak ada tasyahud.

Dalam ‘Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin’ (1: 282) disebutkan :“Sujud syukur itu seperti sujud tilawah. Bedanya sujud syukur tidak disyariatkan di dalam shalat. Sebab dari sujud syukur tidak terkait dengan shalat, berbeda dengan sujud tilawah.”

Doa Sujud Syukur 

bagaimana doa sujud syukur

Tidak terdapat hadis shahih yang menjelaskan bacaan tertentu untuk sujud syukur. Karena itu, para ulama menegaskan bacaan pada sujud syukur sama sebagaimana bacaan pada sujud dalam shalat. Seperti, subhaana rabbiyal a’laaa, atau subbuuhun qudduusun rabbul malaaikati war ruuh, atau yang lainnya, kemudian dilanjutkan dengan doa apapun yang dikendaki orang yang sujud.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Tata cara sujud syukur, baik gerakan maupun hukum, dan syaratnya sama seperti sujud tilawah.” (Al-Mughni, 2:372)

Beliau menjelaskan tentang sujud tilawah, “Bacaan sujud tilawah sama dengan bacaan sujud dalam shalat.” (Al-Mughni, 2:362)

Maka berikut adalah bacaan yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ketika sujud :

  1. Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca: 

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

Subhaana robbiyal a’laa

“Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi” (HR. Muslim no. 772)

  1. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud: 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.

“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku” (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)

  1. Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sujud membaca: 

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.

“Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.” (HR. Muslim no. 771)

  1. Kemudian juga hadits dari Muslim, 

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوح

Subbuuhun qudduus, robbul malaa-ikati war ruuh

“Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh -yaitu Jibril-).” (HR. Muslim, no. 487)

Wallohu a’lam. Semoga Alloh menambah ilmu yang bermanfaat kepada kita dan memudahkan kita dalam mengamalkannya.

Disusun oleh : Hanifah Abidah