0813 - 9854 - 3100 masjidpedesaan@gmail.com

Bagaimana Keutamaan Puasa Syawal dan Tata Cara Melaksanakannya

  • Home / Blog / Bagaimana Keutamaan Puasa…
Bagaimana Keutamaan Puasa Syawal dan Tata Cara Melaksanakannya

Bagaimana Keutamaan Puasa Syawal dan Tata Cara Melaksanakannya

Oleh: Rubianto Eko Saputro, Lc

Bulan Syawal merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam. Setelah menjalani puasa wajib bulan Ramadhan, mengekang hawa nafsu selama sebulan penuh, Allah menyambut kemenangan dan sukacita kita itu dengan disyariatkannya sholat Idul Fitri secara berjamaah sebagai bentuk rasa syukur. Yaitu, hari di mana seorang hamba kembali menjadi pribadi yang suci, untuk menyongsong menjadi hamba yang lebih baik lagi.

Allah Mahabaik dan enggan meninggalkan para hamba-Nya untuk melewatkan satu kebaikan, maka pada bulan Syawal ini terdapat satu amalan ibadah istimewa yang dapat ditunaikan. Yaitu, puasa 6 hari di bulan Syawal, sebagaimana dikutip dalam hadits berikut:

Dari Abu Ayyub Al-Anshari -radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa telah berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian mengikutkannya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa setahun.”

(HR Muslim)

Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi menyebutkan bahwa hukum puasa 6 hari pada bulan Syawal adalah sunnah. Demikian beliau menukil pendapat Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal. Artinya, puasa 6 hari di bulan Syawal ini bukan sebuah kewajiban dan keharusan. Namun, jikalau ditinggalkan maka akan merugi sebab pahalanya yang luar biasa.

Di antara keutamaan-keutamaan puasa 6 hari pada bulan Syawal adalah sebagai berikut:

Penyempurna Ibadah

Pada hari perhitungan kelak semua perbuatan manusia akan ditimbang dan diberi balasan sesuai ukuran berat timbangan amalnya. Sebagai hamba yang tak luput dari khilaf dan dosa, di mana tentu saja tatkala menunaikan amalan wajib pasti tidak lepas dari kekurangan dan kelalaian. Dan jika seorang hamba memiliki amalan sunnah di samping amalan wajib, maka amalan sunnah itulah yang akan menjadi perekat dan penyempurna setiap kekurangan. Semakin banyak amalan seorang hamba, jika ia ikhlas, maka sebesar itulah balasan yang akan diterima.

Pahala Berlipat

Setiap satu perbuatan baik seorang hamba dinilai dan dicatat sebanyak sepuluh kali lipat. Hal inilah mengapa sabda Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam- bahwa menambahkan puasa 6 hari di bulan Syawal setelah berpuasa penuh pada bulan Ramadhan setara dengan berpuasa setahun. Sebab ukurannya adalah pahala yang diperhitungkan.

Jika seorang hamba berpuasa 30 hari ditambah 6 hari, maka ia berpuasa sebanyak 36 hari. Dan puasa 36 hari itu pahalanya setara dengan berpuasa 360 hari. Sebab satu kebaikan, balasan pahalanya dengan sepuluh kebaikan. Namun hanya Allah yang berhak memutuskan dan memperhitungkan seberapa besar pahala yang pantas didapatkan oleh seorang hamba.

Media Taqarrub

Amalan-amalan sunnah merupakan bentuk Qurbah; upaya seorang hamba bertaqarrub dan mendekatkan diri kehadirat Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Selain menunaikan amalan yang wajib, seorang hamba dianjurkan untuk menunaikan amalan yang sunnah agar tercipta ikatan mahabbah (cinta). Tatkala benih cinta dalam ibadah itu mulai tumbuh dan berkembang, maka setiap ibadah yang ditunaikan terasa nyaman. Dan demikian para ulama menyebutnya dengan Halawatul Iman (manisnya iman).

 Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam hadits Qudsi berfirman:

Setiap amalan bani Adam itu untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukku, dan aku (sendiri) yang memberikan balasannya.

Maka berpuasa merupakan satu di antara banyak ibadah sebagai sarana seorang hamba bertaqarrub, sebab Allah sendiri yang memperhitungkan balasan pahalanya.

Tanda Syukur dan Iman

Sudah sepatutnya seorang hamba banyak bersyukur. Seusai berpuasa penuh pada bulan Ramadhan, seorang hamba seharusnya tidak mengurangi rasa semangat dalam beribadah. Dengan menambah puasa 6 hari di bulan Syawal setelahnya merupakan bentuk syukur dan tanda bahwa ibadah yang ditunaikannya itu bukanlah sebagai beban, melainkan sebagai tanda mahabbah dan ridho. Dan inilah yang sebenar-benarnya iman.

Lantas, bagaimana tata cara pelaksanaannya?

Tata cara pelaksanaan puasa sunnah tidak jauh berbeda dengan puasa wajib; dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, tentu harus disertai dengan niat yang tulus ikhlas. Hanyasaja perbedaan dasarnya terletak pada bahwa puasa wajib diharuskan berniat pada malam hari sebelumnya (Tabyit Niat), sedangkan puasa sunnah boleh berniat tatkala matahari telah terbit selama belum ada benda apapun yang masuk ke dalam perut.

Puasa 6 hari di bulan Syawal boleh dilakukan di awal bulan, pertengahan, atau di akhiran bulan. Boleh berpuasa sehari, lalu di hari selanjutnya tidak, kemudian di hari lusa berpuasa kembali; berurutan atau tidak berurutan. Sifatnya kondisional sesuai kemampuan. Namun, para ulama menyebutkan waktu yang paling utama untuk berpuasa di bulan Syawal adalah pada awal bulan. Artinya, puasa 6 hari di bulan Syawal dimulai dari tanggal 2 hingga 7 Syawal secara berurutan, agar supaya perbuatan baik itu tersambung dan tidak terputus. Karena itu, bentuk pahala langsung daripada perbuatan baik seorang hamba yang paling nampak adalah ia berbuat baik lagi setelahnya; kontinuitas (istiqomah) dalam kebaikan.

Puasa 6 hari di bulan Syawal merupakan ibadah yang istimewa. Namun, ketika seorang hamba memiliki tanggungan Qadha’ puasa dari bulan Ramadhan, maka hendaknya ia menunaikan Qadha’ puasa wajib itu terlebih dahulu sebelum hendak berpuasa sunnah di bulan Syawal. Sebab amalan yang sifatnya wajib tidak bisa digantikan posisi dan kedudukannya dengan amalan yang sifatnya sunnah. Tunaikanlah amalan yang wajib secara sempurna sebelum amalan yang sunnah.Wallahu A’lam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *