fbpx

Bagaimana Keutamaan dan Tata Cara Melempar Jumroh?

Melempar jumroh adalah salah satu ritual yang harus anda penuhi ketika sampai di tanah suci, saat Idul Adha. Pelemparan batu tiga kali yang melambangkan rajam setan adalah salah satu elemen sentral dari haji tahunan akbar.

Ritual melempar jumroh adalah tatacara terakhir bagi peziarah dan berlangsung di kota Mina tepat di luar kota suci Mekkah. Sebelum pelemparan batu, ratusan ribu peziarah bermalam di dataran Muzdalifah mengumpulkan kerikil untuk persiapan ritual.

Table of Contents

Asal Muasal Melempar Jumroh

Dari Ibnu Abbas radhiyallallahu’anhuma, beliau menisbatkan pernyataan ini kepada Nabi,

Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, tiba-tiba Iblis menampakkan diri di hadapan beliau di jumroh’Aqobah. Lalu Ibrahim melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah . Iblis itu menampakkan dirinya kembali di jumroh yang kedua. Lalu Ibrahim melempari setan itu kembali dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah. Kemudian Iblis menampakkan dirinya kembali di jumroh ketiga. Lalu Ibrahim pun melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu masuk ke tanah“.

Ibnu Abbas kemudian mengatakan,

Kalian merajam setan, bersamaan dengan itu (dengan melempar jumroh) kalian mengikuti agama ayah kalian Ibrahim“.

Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2/17), hadits nomor 1156.

Tata Cara Melempar Jumroh

Ritual ini memberlakukan kembali ziarah Ibrahim ke Mekah dan mengharuskan peziarah mengumpulkan antara 49 dan 70 kerikil dari tanah di Muzdalifah, dan melemparkannya ke tiga pilar di Mina, yang melambangkan penolakan setan. Pilar-pilar tersebut terletak di jembatan penyeberangan besar, selebar jalan raya delapan jalur, dibangun di atas dataran gurun Mina. Pada hari Idul Adha, peziarah batu terbesar dari tiga pilar dengan tujuh batu.

  • Ritual ini diikuti pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah yang dikenal dengan Idul Adha.
  • Rupanya para peziarah hanya melempar salah satu pilar besar dengan tujuh kerikil.
  • Pasca rajam rajam pada Idul Fitri, jamaah harus mencukur rambutnya.
  • Setelah itu pada dua hari berikutnya, para peziarah diharapkan melempar masing-masing dari tiga dinding dengan tujuh kerikil yang berurutan dari timur ke barat.
  • Para peziarah yang menginap di Mina selama satu hari tambahan harus merajam setiap tembok sebanyak tujuh kali, lagi.
  • Kerikil yang digunakan untuk rajam ini dikumpulkan pada malam sebelum pelemparan pertama dan disimpan di Muzdalifah yang merupakan dataran di Mina.
  • Batu untuk rajm harus ditemukan dalam keadaan aslinya, bukan batu pecahan; bukan pula batu mulia dan batu yang terbuat dari emas dan perak.
  • Batunya tidak boleh terlempar dengan keras dan tidak boleh lebih besar dari kacang lentil sehingga tidak merusak fasilitas yang ada dan tidak membahayakan nyawa orang lain.
  • Saat melempar jumroh, jamaah haji dianjurkan melempar sambil melafalkan dzikir dengan bertakbir.

Makna Spiritual dari Melempar Jumroh

Rajam setan adalah perwujudan kembali simbolis dari Ibrahim di mana ia dikatakan telah merajam tiga pilar yang mewakili godaan untuk tidak menaati Allah. Jika dilakukan oleh manusia zaman sekarang, artinya selalu mengingat dan bersyukur kepada Allah SWT dan menolak tindakan setan dan mengesampingkan hal-hal duniawi yang tidak begitu penting. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *