fbpx

Apa itu Istidraj?

istidraj

Dalam kehidupan kita seringkali mendapatkan rezeki maupun nikmat karena rasa syukur maupun amalan-amalan baik. Akan tetapi, ada kenikmatan yang harus kita waspadai agar kita tidak termasuk golongan orang yang dibenci oleh Allah SWT. Kenikmatan itu adalah istidraj.

Pengertian Istidraj

istidraj adalah

Pernahkah di antara kita berbangga saat memiliki kemewahan, menduduki jabatan bergengsi, dan kenimatan-kenikmatan lain yang padahal diri kita saat itu malas untuk beribadah? 

Cobalah mulai saat ini jangan terburu-buru untuk bangga dengan yang kita dapatkan itu. Sebab, apabila semua itu didapat melalui jalan yang buruk–semisal korupsi, suap, atau cara-cara haram lainnya—semua harta, jabatan, dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang nyaman itu bukanlah nikmat yang patut dibanggakan, bisa jadi semua itu merupakan malapetaka (niqmah) yang mesti kita waspadai.

Dalam islam, hal ini disebut juga dengan Istidraj. Istilah ini mengarah pada jebakan bagi kita sebagai manusia berupa kenikmatan, yang dengan kenikmatan itu kita menjadi lalai dan binasa.

Istidraj sendiri secara bahasa bermakna naik dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya. Sedangkan secara pengertian, istidraj ini dapat bermakna sebagai ‘hukuman’ dari Allah kepada hambanya yang diberikan sedikit demi sedikit, tidak secara langsung. Allah tidak menyegerakan hukumannya. Sebagaimana firman Allah:


سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsurangsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (Qs Al-Qalam: 44)

Hadits Mengenai Istidraj

pengertian istidraj

Untuk semakin memahami makna istidraj, coba kita simak hadist Rasul yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir 

 Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra, Rasulullah saw bersabda: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat yang berbunyi, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Qs Al-An’am: 44).” (HR. Ahmad)

Dari pengertian dan dalil di atas kita dapat menyimpulkan bahwasannya Istidraj itu adalah jebakan berupa pemberian nikmat karena kita bermaksiat, dimana nikmat tersebut dapat makin melalaikan kita, sehingga kita yang seharusnya dengan apa yang kita dapatkan itu bersyukur dan semakin dekat dengan Allah, maka bisa makin terjerumus ke dalam kemaksiatan bila tidak segera sadar dan bertaubat. 

Ciri-Ciri Istidraj

ciri-ciri istidraj

Untuk menghindari dari perilaku ini,  kita sebagai muslim harus mengetahui beberapa ciri istidraj. Diantara ciri-cirinya adalah:

1. Nikmat dunia yang semakin bertambah, Namun keimanan kita semakin menurun.

Ketika Allah senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan duniawi pada seseorang sedangkan keimanannya semakin menurun. Perlu diketahui bahwasannya itu adalah salah satu ciri dari istidraj. 

Allah Yang Maha Pengasih memberikan kenikmatan duniawi kepada kita. Namun, tanpa kita sadari, kenikmatan tersebut justru adalah ujian yang sungguh berat pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Selain itu, kenikmatan yang dirasakan oleh seseorang yang beriman dengan yang tidak beriman rasanya akan berbeda. Seseorang yang beriman akan senantiasa bersyukur dan mendapati ketenangan yang sangat menentramkan dalam hidupnya.  Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh orang yang tidak beriman, mereka akan terus merasa kurang dan gelisah walaupun tengah menikmati semua kemudahan dan kebahagiaan yang Allah berikan tersebut.

Mengenai kewajiban manusia dalam menjaga keimanannya, Allah berfirman dalam surat ali Imran yang berbunyi:

قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya´qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”. (QS Ali Imran : 84).

2. Mendapat kemudahan hidup meski terus menerus bermaksiat

menghindari istidraj

Ali Bin Abi Thalib r.a. berkata : Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepadaNya”.

Istidraj sangat jelas dalam perkara ini karena perbuatan maksiat merupakan awal dari kehancuran dan penderitaan. Namun ketika maksiat terus dilakukan sedangkan kehidupan di dunianya semakin sukses dan sejahtera, maka hal tersebut adalah kemurahan hati yang Allah berikan dalam bentuk istidraj.

3. Rizki selalu bertambah, meski terus lalai dalam ibadah

Tidak semua dari kita terlahir dalam keadaan yang serba berkecukupan. Sebagian dari kita harus berusaha keras untuk mendapatkan penghasilan dan mendekatkan diri kepada Allah agar Allah membantu melancarkan pintu rejekinya. Namun ketika seseorang yang selalu meninggalkan ibadahnya secara sengaja namun rejekinya terus mengalir lancar maka hal tersebut termasuk ke dalam ciri-ciri dari istidraj.

Dimana kelancaran rejeki yang didapat tentunya disertai dengan tanggung jawab yang besar semakin banyak rejeki yang didapat, semakin kita mengabaikan ibadah dan perintah Allah maka akan semakin berat juga dosa yang kita tanggung.

Ibnu Athaillah berkata : “Hendaklah engkau takut jika selalu mendapat karunia Allah, sementara engkau tetap dalam perbuatan maksiat kepada-Nya, jangan sampai karunia itu semata-mata istidraj oleh Allah”.

4. Semakin Kaya, Namun semakin menjadi kikir

definisi istidraj

Harta yang kita peroleh bukan hanya milik kita pribadi saja. Akan tetapi di dalamnya ada sebagian hak para fakir dan miskin, bisa dalam bentuk sedekah, zakat, infaq, dan lainnya. Semakin besar harta yang kita miliki maka semakin besar pula sedekah atau zakat yang harus kita keluarkan dan berikan kepada orang yang membutuhkan.

Namun kebanyakan orang malah merasa bahwa harta yang ia dapatkan adalah miliknya seorang saja sehingga ia merasa terlalu sayang jika hartanya harus dibagi dengan orang lain walaupun dalam bentuk sedekah atau zakat sekalipun. Maka jika Allah masih bermurah hati menjaga harta untuknya, itu adalah salah satu ciri ujian dalam bentuk istidraj.

Allah berfirman dalam surat al-Humazah ayat 1-3 yang berbunyi:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ۙ الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗ ۙيَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗ ۚ 

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung.  Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.“(QS. Al-Humazah : 1-3).

Meningkatkan Keimanan Jadikan keimanan kita kepada Allah SWT sebagai dasar bagi kita dalam menjalankan kehidupan di dunia. Karena dengan iman yang kuat keberkahan yang sejati akan kita dapatkan dalam hidup. 2. Mengerjakan Amal Sholeh Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” 

Ditulis oleh : Labib – Mahasiswa Lipia Jakarta